Skip to content

Westmorelandism Room

Beberapa hari yang lalu sekitar sabtu malam, untuk pertama kalinya saya menonton film indie yang belakangan ini dibicarakan oleh teman-teman saya, Cin(T)a. Ditemani pacar saya, kami menontonnya di laptop hitam bertuliskan "Raven" itu. Walau teman saya bilang "Basi lo baru nonton sekarang!" tapi tak apa, karena film ini membuat saya berpikir banyak soal perbedaan, perbedaan agama dalam percintaan lebih tepatnya. Hal ini tidak terlalu mengganggu pikiran saya sebenarnya, tapi sekarang lain cerita karena saya sedang mengalaminya. Great, hal yang sangat rumit untuk dijalanani tapi sangat berarti untuk dipelajari.


Inti dari film itu adalah demikian:
Cina and Annisa love God
and God loves them both
But Cina and Annisa cannot love each other
because they call God by different names
cin(T)a = Cina (Tuhan) Annisa

Mengerti kan sekarang bahwa cerita cinta itu selalu menarik untuk dikisahkan apalagi yang berhubungan dengan dua pribadi dengan segala latar belakang yang saling bertolak layaknya kutub utara dan selatan. Menarik memang, tapi rumit. Anggap saja begini, saya tidak pernah berpikir untuk berpacaran dengan orang yang berbeda agama, karena menurut saya itu merepotkan. Pernah suatu kali adik saya berpacaran dengan yang berbeda agama juga dan saya sempat mengatakan demikian, "Gila lo??". Okeh saya bukan fanatik hanya saja tak mau direpotkan dengan jalan dan pandangan yang berbeda soal Tuhan dalam percintaan. Sekarang faktanya, seperti senjata makan Tuhan, saya yang malah berpacaran berbeda kenyakinan dengan saya. Sekarang seharusnya kata-kata itu dikembalikan kepada saya, "Gila lo??"

Mungkin saya sedikit gila memang. Dari dulu yang ditekankan dalam diri saya adalah, "Cari pacar yang takut akan Tuhan." sama seperti yang dikatakan oleh Cina, tokoh utama pria dalam film ini, "Kalo istriku, harus lebih cinta Tuhan aku daripada aku." Acungan jempol untuk dialog yang satu ini. Toh dia juga sayang Tuhan, cinta Tuhan. Hanya saja caranya berbeda, lalu apa masalahnya? Saya tidak pernah tahu bagaimana saya akan menghadapi dunia ini terutama keluarga saya apabila mereka tahu saya pacaran beda keyakinan. Yang saya tahu saya telah jatuh cinta pada pria yang menjadi pacar saya sekarang, apapun sejarah dan latar belakangnya saya terima dengan lapang. Berani memilih harus juga berani mengambil resikonya. Kemarin saya baru mengatakan ini kepada teman saya, "You have to be brave to take for granted of all your love's way." Ya ini seharusnya juga ditujukan untuk saya. Mencintainya diperlukan banyak keberanian, dia bukan aneh, tapi sedikit berbeda.

Jangan kira saya tidak memikirkan ini baik-baik sebelum berpacaran. Justru ini penyebab saya menunda-nunda penawaran jual beli. Akhirnya dibayar dengan segenggam hati yang tulus dan sepucuk mawar merah, saya bersedia mengambil resiko yang tidak tahu akan seperti apa nantinya. Satu hal yang aneh, setelah menonton film ini saya jadi bertanya, "Tuhan? dimana Engkau?". Oke, ini pertanyaan yang sunggu salah. Ada keraguan tentang Tuhan dalam diri saya dan itu buruk! Tidak seharusnya timbul hal seperti ini. Akhirnya ditemani dengan iringan instrumental dari iTunes laptop hitam itu, kami sama-sama duduk terdiam dan saling membelakangi satu sama lain. Punggung kami beradu, pikiran kami merewarang jauh. Serumit itu kah cinta beda agama ini?

Saya berpikir demikian akhirnya, bahwa saya bersyukur diberi kesempatan mengalami ini, bertemu dengannya, dan mengenal perbedaan. Dulu saya orang yang tidak mau repot dengan hal-hal demikian tapi sekarang saya terlanjur tenggelam di dalamnya. Tidak apa, saya senang, saya bersyukur. Coba mereka yang belum pernah mengalami ini, memang kisah mereka tidak akan sesulit ini, namun mereka tidak mendapat pelajaran mengenai bab Perbedaan. Kalau saya, saya diberi kesempatan untuk belajar dan saya berterima kasih akan itu. Entah ada masalah apa yang akan menanti kami diujung sana, setidaknya kami berdua mencoba berjalan dengan kenyakinan kami masing-masing namun satu pikiran, bahwa Tuhan sebenarnya satu. That's all! Seperti kutipan dialog ini, "Kalo lo gak bisa nyelesein konflik agama di sana, the least you can do, jangan coba bikin konflik baru di sini deh–Anisa".

Doa saya malam itu: mohon ampun kepada Tuhan akan keraguan sesaat, semoga keraguan itu tidak pernah datang lagi dalam pikiran sesat ini. Jangan sampai. Juga untuk kami berdua, kalau memang ini yang Tuhan mau, kami akan menjalaninya dengan kemampuan terbaik kami. Menjadikannya pelajaran untuk kedepannya. Sepintas juga teringat akan dialog singkat wawancara pasangan beda agama di awal cerita dari film itu yang saya bahasakan seperti ini, "Tuhan, Tatha sayang sama Aji. Kita boleh pacaran yah Tuhan??". dan Tuhan terdiam, tapi jawabanNya ada. Saya tahu itu, hanya saja belum mendapatkannya. Setidaknya saya sudah minta ijin. Toh dia juga anakNya. Kami sama-sama anakNya!

Suasana melankolis sesaat itu dipecahkan dengan dialog kami berdua:
Saya: "Untung aku ga fanatik yah."
Dia: "Ya kita liberal."
Saya: "Ya kalau fanatik kita ga jadian."
Dia: Hugged me.

Ketika masing-masing pribadi saling merendah dan menahan egonya, lihat apa yang bisa didapat dari perbedaan. Keindahan yang didapat, bukan perpecahan. Toh saya sudah sedikit banyak mendapat pencerahan dari film ini.

"Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda kalo Tuhan cuma mau disembah kita dengan satu cara? –Anisa. Makanya Tuhan nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu –Cina."

C.I.N.T.A itu jawabannya. Bersatu bisa berarti banyak hal, tidak harus selalu bersama seperti ending di film ini. Tapi ada juga yang benar-benar bersatu seperti kisah lainnya. Akankah kisah saya ini menjadi bersatu seperti kisah lainnya itu atau berakhir seperti Cina dan Annisa? Who knows? God knows.

"Tabah Cin, inget Hollywood ending. Tuhan pasti lagi nonton kita –Anisa"

God is a Director - of my movie, of your movie, of our movie.
Sekarang saya bersamanya dan biarkan seperti itu. Tidak peduli dia agama apa, dia bagaimana dahulu, dia sama siapa dahulu, yang saya tahu, dia bersama saya sekarang, membuat film baru untuk kami berdua. Sampai kata ending itu muncul, biarlah kami bersama selama yang kami bisa.

Dia bahagia, aku bahagia. Sesederhana itu. (Winter in Tokyo)
I just love him. Simple. That's all.

PS: what a great film! thank you...

0 comments:

Leave A Reply