Skip to content

Westmorelandism Room

Ini saur on the road pertama saya sama pacar dan teman-teman saya dulu ketika magang di Gramedia Grand Indonesia (untuk selanjutnya sebut aja GGI kepanjangan nulis lengkap-lengkap). Tahun lalu saya sempat pingin ikut tapi karena mendadak banget jadi ga jadi. Nah kali ini sudah direncanakan untuk ikut dari seminggu sebelumnya dan pacar dengan senang hati menemani saya untuk melakukan saur on the road perdana saya.


Jadi waktu itu menunjukkan pukul 10 malam ketika pacar menjemput saya di kontrakan di bilangan kelapa dua Tangerang. Seperti biasa, dengan motor kesayangan si Trauma namanya, setelan hitam dengan slyer skull buatan sendiri, pacar datang dengan senyuman walau dia terlihat capek sekeli pulang dari kerja. Jadwal kumpul untuk briefing adalah sekitar setengah 11 malam di depan 711 Grand Indonesia. Akhirnya dengan persiapan jaket, clana panjang, dan vans strawberry kesayangan, juga slayer penutup mulut, saya dan pacar siap meluncur ke Jakarta.

Jalanan tidak begitu macet malam itu. Tapi dinginnya parah. Ditambah pacar yang ngebut. Hem, masuk angin masuk angin deh pikir saya. Juga debunya itu loh, membanyangkan setebal apa nanti debu yang menempel di wajah. Bleeh. Sesampainya di depan 711 a.k.a seven eleven Grand Indonesia, sederet motor dalam jumlah banyak sudah menanti dan berjajaran. Dari jauh saya mengenali beberapa teman saya sewaktu saya magang dulu. Akhirnya setelah ikut menderetkan Trauma (motornya pacar), saya turun dari dan menyapa salah satu teman saya -yang nampaknya saya kenal- yang kebetulan duduk di dekat situ.

Namanya Stella. Dia pramuniaga yang tugasnya jaga sektor buku deket alat-alat musik. Langsung dia saya peluk. Kangen, inget dulu pas magang pake baju putih hitam, rambut dicepol, dan terpaksa makeup. lalu ada beberapa teman lain. seperti si Ana, pramuniaga import lt.3 yang uda alumni Gramed GI istilahnya karena dia uda keluar dari GGI. Ana lupa-lupa ingat nama saya tapi tetap aja meluk dan tersenyum. Ada juga teman-teman yang lain. Ada juga yang tidak sadar itu saya karena saya pakai kacamata. Maklum kalo ga nanti ga bisa liad jalan. Akhirnya setelah had a little chit chat with my friends, saya pergi ke 711 untuk beli doping bersama pacar. Doping disini maksudnya susu vanilla. Supaya gak ngantuk. Ga ada hubungannya emang.

Ada briefing sebelum perjalanan dimulai. Dari jauh terlihat si seksi sibuk yang namanya Rian. Sempat dekat dulu dengan dia karena saya menganngap dia sudah seperti kakak saya sendiri. Dia sibuk kesana kemari dan meninggalkan pacarnya sendiri. Semangat sosialnya tinggi padahal dia tidak ikut merayakan lebaran sama seperti saya. Saya memperhatikan dari jauh, oh itu pacarnya, tidak terlalu tinggi, tidak gendut, putih (tidak seperti saya), dan rambutnya panjang diikat. Dari jauh juga datang si Mas Tri. Nah ini mas yang lumayan 'lucu' sewaktu saya magang. Pernah sekali saya mengacaukan pekerjaannya gara-gara salah masukin kuantitas buku yang di retur. Kasian, maaf yah mas. Tapi orang ini sabarnya bukan main. Salut. Ada juga Jawa, yang saya panggil aa Jawa, juga Rendy. Mereka bertugas blokir jalan. Kalau kata pacar itu tugas yang susah susah menyenangkan karena harus memblokir jalan untuk motor lain lewat tapi harus lebih dulu sampai ujung untuk memblokir jalan di depannya lagi, maksudnya harus ngebut super tinggi sederhananya. Terus Mey. Si Gultom. Mey Gultom maksudnya. Dia juga alumni GGI, tapi datang dan jadi seksi dokumentasi. Agak sedikit menyesal juga gak bawa kamera. Hufftt.

Akhirnya saur on the roadpun dimulai. Jadi begini sistemnya, semua motor dijadikan 2 jalur dan diberi pita hijau di masing-masing motor sebagai penanda. Setelah itu iring-iringan sampe ke tempat panti penampungan anak jalanan. Selama perjalanan ada yang turun dari mobil (yang mimpin di depan dan bawa makanan) untuk membagikan kotak-kotak makanan ke yang naik motor. Makanan-makanan itu untuk dibagikan ke anak-anak atau orang-orang tua di pinggir jalan yang kesusahan. Senang rasanya bisa berbagi seperti itu. Aneh tapi menyenangkan. Ternyata di sepanjang jalan banyak juga kubuh lain yang menjalankan saur on the road. Semua membunyikan klakson dan melambaikan tangan ketika kami lewat. Tanda persaudaraan. Heboh.

Sepanjang perjalanan pacar juga cerita tentang apa saja, dari dia saur on the road dulu sama teman-temannya seperjuangan yang suka sekali motor itu sampai rencana saur on the road sama teman-temang kampus tapi tidak kesampaian. Bersyukur bisa pergi sama cowok satu ini. Aman, damai, banyak pengetahuan. Oh yeah.

Akhirnya sampai di panti penampungan anak jalanan, ada acara silahturahminya sebelum saur bersama mereka. Ada nyanyi-nyanyi segala dan disitu kebersamaannya terasa sekali. Saya berpikir bahwa itu bukan hal besar tapi itu menjadi sesuatu yang besar bagi mereka yang terlantar sehingga mereka merasa bahwa mereka itu masih dipedulikan oleh yang lain dan dianggap sama. Lucunya waktu kata sambutan dari salah satu supervisor GGI yang non muslim memberi speechnya, dia salah bilang salam yang harusnya dibuka dengan Assalamwalaikum dia malah Walaikumsalam. Lucu, yang penting niatnya yah mas Made. Disana semua bernyanyi bersama dan tertawa bersama, makan bersama dan doa bersama. Lihat kan, kita semua sebenarnya sama, lalu kenapa kita harus sombong, toh yang kita punya juga asalnya dari Tuhan juga. dan Tuhannya juga sama, beda sebutan aja.

Pulangnya setelah pamit sama teman-teman dan supervisor yang lain, pulang dari sana sudah sekitar pukul setenga 5 subuh. Sesampainya di kontrakan lagi jam setengah 6 subuh. Tidur sampai siang. Capek tapi berkat sekali bisa diberi kesempatan untuk ikut saur on the road sama anak-anak GGI. Pengalaman yang seru dan saya merasa teberkati sekali dapat ambil bagian di dalamnya. Menanti untuk saur on the road berikutnya. :)

0 comments:

Leave A Reply