Skip to content

Westmorelandism Room

Mungkin aku terlihat baik-baik saja saat itu namun nyatanya tidak. Sesampainya di rumah tekanan itu menjadi-jadi. Pikiran bahwa aku tidak bisa mendapatkan gelar sarjanapun meruak begitu saja. Kakipun berjalan ke arah dapur begitu saja. Membuka lemari penyimpanan sapu dan kawan-kawannya begitu saja. Dan mengambil sebotol obat pembasmi nyamukpun begitu saja. Aku menerawangnya, dan mengamatinya dengan baik-baik. Kini botol itu seudah berada dalam genggamanku. Botol bewarna hijau untuk membasmi nyamuk, pasti juga bisa membasmi manusia pikirku. Tanpa pikir panjang dan tanpa peduli apa yang menyadap otakku, tapi keinginan untuk meminumnya sangat besar. Saat itu aku ingin mati, lagi.

Satu botolpun terminum semua. Aku tau kemarin nenek baru membelinya di pasar, itu berarti isinya masih penuh dan kuhabiskan tak bersisa, tak besisa. Tak lama setelah meminumnya habis, kepalaku muali terasa berat dan tenggorokkanku tercekat. Percaya tidak percaya, tapi rasa obat pembasmi nyamuk itu rasanya lumayan manis. Pantas saja banyak orang yang sering bunuh diri dengan obat nyamuk. Botol yang kini telah kosong itupun jatuh ke lantai, akupun jatuh ke lantai. Otakku sudah tidak bisa berpikir. Aku hanya bisa memejamkan mata, dan kemudian tidak sadarkan diri.

Apakah aku mati? Tentu saja tidak. Ketika aku sadar, aku sudah tertidur di atas ranjang rumah sakit. Sekali lagi, aku gagal untuk mati. Kata nenek untung saja pembasmi nyamuk yang ku minum itu non chemical ingridients, jadi tidak terlalu berbahaya untuk manusia, tapi berbahaya untuk nyamuk. Great pikiriku.

0 comments:

Leave A Reply