Skip to content

Westmorelandism Room

“Dia terlihat senang bukan disana? Jadi kau tidak perlu memikirkan kejadian buruk yang menimpa kakakmu lagi karena itu percuma. Orang yang kau khawatirkan saja tidak memikirkannya lagi malah ia senang sekali bisa berada di surga. Dan kalau kau ingin ke surga juga, perbaikilah hidupmu, bersyukurlah atas apa yang Tuhan berikan, dan mulailah percaya bahwa Tuhan itu ada dan dia baik.” Tutur Umibel sambil tersenyum menatap ke atas. Aku masi mendongak dan berpikir. Entah kenapa otakku jadi sulit mencerna belakangan ini. Mungkin terlalu banyak yang harus aku cerna jadi overload.

“Tara.” Umibel berseru dan akupun menoleh ke arahnya.

“Sekarang kau telah melihat semuanya dan seharusnya kau belajar banyak dari hal ini. Sekarang kembalilah dan hiduplah benar. Jangan pernah mencoba bunuh diri lagi. Cobalah untuk lebih bersyukur dan menikmati hidupmu. Berdoalah kepada Tuhan dan semua akan baik-baik saja. Percaya itu.” Umibel memberikan pesan yang harus diingatnya baik-baik.

Aku menghela nafas panjang. Aku sudah mulai mengerti sekarang. Bagaimanapun juga kalau Tuhan tidak mengijinkan aku mati, aku tidak akan mati entah seberapa besar keinginan dan usahaku untuk mati. Dan masalahku, aku kira seharusnya aku dapat mengatasinya dengan lebih baik, tidak dengan bunuh diri. Ingatanku tentang kakek, nekek, ayah, ibu, dan kakak yang barusan kulihat, menggembalikan lagi semangatku untuk hidup.

0 comments:

Leave A Reply