Skip to content

Westmorelandism Room

Saat itu cerah dan aku sedang mendengar lagu memakai headseat sambil berjalan menyeberangi zebra cross. Aku baru saja dari kantor untuk mengambil bahan berita yang akan kutulis untuk salah satu rubrik di majalah tempat aku bekerja sekarang. Saat itu aku benar-benar menikmati hidup dan mungkin saking senangnya akan hidup aku lupa bahwa kematian itu yang kini datang menghampiriku. Ya, benar sekali, ketika itu aku tidak mendengar bunyi klakson di ujung sana dan detik berikutnya kulihat truk besar sudah ada di hadapanku, berjalan dengan cepat, tidak bisa melarikan diri lagi, dan...

BRAAAAAAAAAAAKKKKKKKK!!!!

Aku mati. Semudah dan sesimple itu.

Ternyata benar, ketika aku tidak menginginkannya, aku malah harus mati, meninggalkan semua yang kusayang di dunia. Ketika aku ingin mati aku malah tidak mati entah seberapa besar usahaku untuk mati. Well, namanya juga hidup. Dia yang mengatur. Tidak, aku tidak kecewa. Aku malah bersyukur Tuhan masih mau memberiku kesempatan selama dua tahun terakhir ini untuk menikmati dan memperbaiki hidupku. Mungkin selama 10 tahun aku menderita tapi terbayar dengan 2 tahun yang sungguh berharga. Dan aku yakin di bumi, ada malaikat juga seperti Umibel yang menjaga orang-orang yang kusayang, dan Tuhan pastinya yang akan selalu menjaga dan menyayangi mereka seperti Dia menyayangiku.

“Hai Tara! Senang berjumpa denganmu lagi secara langsung seperti ini.” Aku kenal suara itu dengan baik.

“Hai Umibel.” Balasku sambil tersenyum. “Dan, oh, Hai kak! Oh aku sangat merindukanmu.” Kakakku juga, aku melihatnya datang ke arahku, dan kami bertiga berpelukan. Detik itu juga aku tau, bahwa aku berada di Surga.

“Selamat datang Tara, Ini Surgamu.” Suara besar menggelegar dan sungguh damai terdengar di langit-langit surga. Aku tersenyum riang.

“Hai Tuhan... Senang bertemu denganMu...”

END.

0 comments:

Leave A Reply