Skip to content

Westmorelandism Room

Waktu itu aku sedang di kamar baruku, di rumah kakek dan nenek. Tentu saja kakek dan nenek sangat baik padaku, tapi sayang, saat itu tiba-tiba keinginan beberapa tahun silampun muncul lagi. Aku ingin mati. Siapa tau kali ini berhasil? Siapa tau.

Aku masuk ke kamar mandi yang ada di kamarku, sebelumnya aku mencari sejenis benda tajam di kamar. Hanya ada silet, dan siletnya sudah agak lama karena terlihat sudah berkarat. Tetanus? Great, ini akan bisa membunuhku. Mungkin aku sudah gila dan kehilangan akal sehat, memang. Pertama aku mencoba menggoreskannya di lengan kiriku dari pangkal siku. Satu goresan yang cukup panjang dan perih. Saat itu darah mengalir, tidak banyak tapi terus mengalir. Kemudian aku pikir akan lebih artistik apabila menuliskan sesuatu di lenganku sebelum aku memotong urat nadiku sendiri. Seperti pesan terakhir mungkin, ah, aku ini sudah semakin gila.

Goodbye, itulah kata norak yang berhasil kutulis dengan silet di lenganku. Jelas itu ditulis dengan darahku yang merah. Perihnya semakin menjadi namun tetap kulanjutkan program bunuh diri itu. Sekarang nadi, pikirku. Ketika aku berhasil memotongnya di pergelangan tangan, saat itu juga jantungku berdegup kencang, kepalaku pusing, dan penglihatanku kabur. Di luar sana aku dengar nenek membuka pintu kamarku dan memanggil namaku. Mana bisa aku menyahutnya, aku sudah tidak berdaya duduk di lantai kamar mandi. Air menyala dari keran kamar mandi, deras, sama derasnya ketika ia mengalirkan darahku yang bewarna merah sampai keluar, ke kamarku. Aku masih bisa mendengar nenek terpekik kaget melihatnya, segera ia membuka pintu kamar mandi dan ya untung saja dia tidak pingsan-melihatku berlumuran darah, lunglai, tak berdaya.

0 comments:

Leave A Reply