Skip to content

Westmorelandism Room

Ini saur on the road pertama saya sama pacar dan teman-teman saya dulu ketika magang di Gramedia Grand Indonesia (untuk selanjutnya sebut aja GGI kepanjangan nulis lengkap-lengkap). Tahun lalu saya sempat pingin ikut tapi karena mendadak banget jadi ga jadi. Nah kali ini sudah direncanakan untuk ikut dari seminggu sebelumnya dan pacar dengan senang hati menemani saya untuk melakukan saur on the road perdana saya.


Jadi waktu itu menunjukkan pukul 10 malam ketika pacar menjemput saya di kontrakan di bilangan kelapa dua Tangerang. Seperti biasa, dengan motor kesayangan si Trauma namanya, setelan hitam dengan slyer skull buatan sendiri, pacar datang dengan senyuman walau dia terlihat capek sekeli pulang dari kerja. Jadwal kumpul untuk briefing adalah sekitar setengah 11 malam di depan 711 Grand Indonesia. Akhirnya dengan persiapan jaket, clana panjang, dan vans strawberry kesayangan, juga slayer penutup mulut, saya dan pacar siap meluncur ke Jakarta.

Jalanan tidak begitu macet malam itu. Tapi dinginnya parah. Ditambah pacar yang ngebut. Hem, masuk angin masuk angin deh pikir saya. Juga debunya itu loh, membanyangkan setebal apa nanti debu yang menempel di wajah. Bleeh. Sesampainya di depan 711 a.k.a seven eleven Grand Indonesia, sederet motor dalam jumlah banyak sudah menanti dan berjajaran. Dari jauh saya mengenali beberapa teman saya sewaktu saya magang dulu. Akhirnya setelah ikut menderetkan Trauma (motornya pacar), saya turun dari dan menyapa salah satu teman saya -yang nampaknya saya kenal- yang kebetulan duduk di dekat situ.

Namanya Stella. Dia pramuniaga yang tugasnya jaga sektor buku deket alat-alat musik. Langsung dia saya peluk. Kangen, inget dulu pas magang pake baju putih hitam, rambut dicepol, dan terpaksa makeup. lalu ada beberapa teman lain. seperti si Ana, pramuniaga import lt.3 yang uda alumni Gramed GI istilahnya karena dia uda keluar dari GGI. Ana lupa-lupa ingat nama saya tapi tetap aja meluk dan tersenyum. Ada juga teman-teman yang lain. Ada juga yang tidak sadar itu saya karena saya pakai kacamata. Maklum kalo ga nanti ga bisa liad jalan. Akhirnya setelah had a little chit chat with my friends, saya pergi ke 711 untuk beli doping bersama pacar. Doping disini maksudnya susu vanilla. Supaya gak ngantuk. Ga ada hubungannya emang.

Ada briefing sebelum perjalanan dimulai. Dari jauh terlihat si seksi sibuk yang namanya Rian. Sempat dekat dulu dengan dia karena saya menganngap dia sudah seperti kakak saya sendiri. Dia sibuk kesana kemari dan meninggalkan pacarnya sendiri. Semangat sosialnya tinggi padahal dia tidak ikut merayakan lebaran sama seperti saya. Saya memperhatikan dari jauh, oh itu pacarnya, tidak terlalu tinggi, tidak gendut, putih (tidak seperti saya), dan rambutnya panjang diikat. Dari jauh juga datang si Mas Tri. Nah ini mas yang lumayan 'lucu' sewaktu saya magang. Pernah sekali saya mengacaukan pekerjaannya gara-gara salah masukin kuantitas buku yang di retur. Kasian, maaf yah mas. Tapi orang ini sabarnya bukan main. Salut. Ada juga Jawa, yang saya panggil aa Jawa, juga Rendy. Mereka bertugas blokir jalan. Kalau kata pacar itu tugas yang susah susah menyenangkan karena harus memblokir jalan untuk motor lain lewat tapi harus lebih dulu sampai ujung untuk memblokir jalan di depannya lagi, maksudnya harus ngebut super tinggi sederhananya. Terus Mey. Si Gultom. Mey Gultom maksudnya. Dia juga alumni GGI, tapi datang dan jadi seksi dokumentasi. Agak sedikit menyesal juga gak bawa kamera. Hufftt.

Akhirnya saur on the roadpun dimulai. Jadi begini sistemnya, semua motor dijadikan 2 jalur dan diberi pita hijau di masing-masing motor sebagai penanda. Setelah itu iring-iringan sampe ke tempat panti penampungan anak jalanan. Selama perjalanan ada yang turun dari mobil (yang mimpin di depan dan bawa makanan) untuk membagikan kotak-kotak makanan ke yang naik motor. Makanan-makanan itu untuk dibagikan ke anak-anak atau orang-orang tua di pinggir jalan yang kesusahan. Senang rasanya bisa berbagi seperti itu. Aneh tapi menyenangkan. Ternyata di sepanjang jalan banyak juga kubuh lain yang menjalankan saur on the road. Semua membunyikan klakson dan melambaikan tangan ketika kami lewat. Tanda persaudaraan. Heboh.

Sepanjang perjalanan pacar juga cerita tentang apa saja, dari dia saur on the road dulu sama teman-temannya seperjuangan yang suka sekali motor itu sampai rencana saur on the road sama teman-temang kampus tapi tidak kesampaian. Bersyukur bisa pergi sama cowok satu ini. Aman, damai, banyak pengetahuan. Oh yeah.

Akhirnya sampai di panti penampungan anak jalanan, ada acara silahturahminya sebelum saur bersama mereka. Ada nyanyi-nyanyi segala dan disitu kebersamaannya terasa sekali. Saya berpikir bahwa itu bukan hal besar tapi itu menjadi sesuatu yang besar bagi mereka yang terlantar sehingga mereka merasa bahwa mereka itu masih dipedulikan oleh yang lain dan dianggap sama. Lucunya waktu kata sambutan dari salah satu supervisor GGI yang non muslim memberi speechnya, dia salah bilang salam yang harusnya dibuka dengan Assalamwalaikum dia malah Walaikumsalam. Lucu, yang penting niatnya yah mas Made. Disana semua bernyanyi bersama dan tertawa bersama, makan bersama dan doa bersama. Lihat kan, kita semua sebenarnya sama, lalu kenapa kita harus sombong, toh yang kita punya juga asalnya dari Tuhan juga. dan Tuhannya juga sama, beda sebutan aja.

Pulangnya setelah pamit sama teman-teman dan supervisor yang lain, pulang dari sana sudah sekitar pukul setenga 5 subuh. Sesampainya di kontrakan lagi jam setengah 6 subuh. Tidur sampai siang. Capek tapi berkat sekali bisa diberi kesempatan untuk ikut saur on the road sama anak-anak GGI. Pengalaman yang seru dan saya merasa teberkati sekali dapat ambil bagian di dalamnya. Menanti untuk saur on the road berikutnya. :)

Jadi begini, (to the point) kemarin ibu saya yang biasa saya panggil 'mami' berulang tahun yang ke-49 tahun. Ada kisah menarik di baliknya. Jadi (lagi) beberapa hari lalu sebelum mami berulang tahun, saya memang sudah niat untuk mentraktir mami makan-makan enak. Saya tidak tahu mau membelikan apa jadinya hal mentraktir itulah yang terlintas dalam kepala saya.


Dengan sok tanpa memikirkan kondisi persilatan dunia perekonomian, saya berkata demikian kepada mami,
"Nanti ulang tahun mami kita makan-makan yah. Sama Chana juga. Ajak Mituo sekalian."
Oknum Chana ini adalah adik saya. Sedangkan Mituo ini adalah kakaknya mami (berarti tante saya) hanya saja telah mengalami perubahan modernitas dari Maktuo (batak) jadi Mituo (modern dikit). Mami balas berkata demikian kemapa saya,
"Ah, kayak banyak duit aja kau."
Percakapan tersebut berlangsung seusai gereja hari minggu tanggal 22 Agustus kemarin. Mituopun akhirnya ikud angkat biacara (kali ini saya didukung),
"Kalo dia uda ngomong gitu berarti dia ada duit."
Padahal kenyataannya nihil. Duit menipis akibat hedonisme liburan kemarin. Ngambil uang di ATM uda kayak ngambil tissue dari tempatnya kalo lagi pilek. Tapi dalam hati saya cuek saja,
"Mau uang darimana kek yang penting ultah mami makan-makan!" Jauh disana, saya yakin Tuhan dengar.

Pulangnya dengan masih berkeyakinan bahwa Tuhan yang akan atur besok duitnya darimana, (kalaupun emang terpaksa tidak ada duit setidaknya saya masi ada simpanan uang beasiswa saya dari semester lalu) saya membuka e-mail saya untuk mengecek job-job apalagi yang baru dan harus saya kerjakan dan keajaiban itu datang seperti notification di facebook.

Ada email dari bos saya tempat saya bekerja freelance. Si malaikat yang dikirim Tuhan ini memberitahukan saya bahwa design fee saya sudah keluar dan telah di transfer ke rekening saya! WOW! How amazing is my God! Saya langsung senyum dan dengan terharu saya bilang begini sama Tuhan, "Wow, Tuhan terima kasih. Kalau emang duit ini Tuhan mau Tatha pakai untuk menyenangkan mami, just let it be God. Thanks so much!' (sok Inggris, ga apa lah, Tuhan bisa semua bahasa kok) .Padahal sebelumnya saya tidak pernah menyangka gaji saya akan diberikan tepat begini. Ajaib Tuhan itu.

Dengan masi terlemas-lemas melihat email tersebut, saya takjub juga melihat gaji yang saya hasilkan dengan usaha desain sendiri. Uangnya memang tidak banyak tapi lebih dari cukup untuk makan-makan. Saya bingung darimana saya bisa (seorang mahasiswi desain grafis yang belum lulus) menghasilkan uang yang lumayan(lah). Ini yang disebut "miracle"? Yes maybe, no, Yes it is! Ini yang disebut pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Mungkin Tuhan tau niat baik untuk menyenangkan mami jadi Tuhan kirim duitnya langsung ke rekening saya. Canggih sekali Tuhan saya!

Akhirnya uang itu bisa juga saya pakai untuk makan-makan sama mami, Chana, mituo, dan om saya (kalau bahasa bataknya tulang, aneh? ya sama). Sisanya saya pakai untuk kasi duit jajan ke Chana dan beli donut buat koko dan keluarga. Apa yah, kalau kita dapat berkat itu harus dibagi-bagi bukan? Itulah artinya dari TERIMA KASIH. Kita TERIMA ya kita KASIH lagi ke orang supaya berkat itu terus mengalir lagi dan lagi. Jangan lupa juga untuk perpuluhan. Apa yang sudah kita terima kan asalnya dari Tuhan. Kita harus beri yang jadi bagian Tuhan demi perluasan kerajaanNya. Amin. *bahasa saya ck.

Mami senang, tante senang, om kenyang, adik berjoget. Sampai adik saya si Chana itu bilang demikian,
"Enak yah ci uda kerja, gue juga pengen cepet-cepet kerja. Tar gantian gue yang traktir yah ci. Langsung lo gue kasih mobil bukan duit lagi. Haha."
Dasar ABG. Tapi saya terharu juga mendengarnya. Saya bilang begini sama dia,
"Kalo beliin lu majalah aja gue ga sanggup, gimana gue mau kuliahin lu?"
Dengan tertawa dia bilang,
"Pasti lo belajar dari mas Aji ya?"
Dalam hati saya cuma bisa senyum dan meng'maybe'kan.

Intinya, Tuhan tuh tau apa yang kita butuhkan jauh sebelum kita memintanya. Pernah denger kan Tuhan bilang gini, "Mintalah maka kau akan diberi." Kalau kita tulus dan butuh, Tuhan pasti kasih tepat pada waktunya. kalau Tuhan belum kasih ya berarti kita belum butuh-butuh amat dan Tuhan selalu punya cara buat menyenangkan kita. liat aja nanti pelangiNya abis ujan. So great! Dan inget, dapet berkat jangan disimpen sendiri tapi dibagi-bagi. Itu bukan cuma hasil jerih payah kita, tapi juga orang-orang di sekitar kita. Jangan pelit! Royal sama mengeluarkan uang secara bijaksana itu beda.

"But thou, when thou prayest, enter into thy closet, and when thou hast shut thy door, pray to thy Father which is in secret; and thy Father which seeth in secret shall reward thee openly." (Matthew 6:6)

Berdoa dan berimanlah. God is good all the time.

Peraturan pertama: Cari pacar yang takut akan Tuhan.

Peraturan kedua: Cari pacar seiman.
Peraturan ketiga: Cari pacar yang setia dan yang nerima apa adanya.
Peraturan keempat: Cari pacar yang bisa diajak arisan (dalam artian ga malu-maluin tampangnya)
Peraturan kelima: Cari pacar yang sayang keluarga.
Peraturan keenam: Cari pacar yang ga pelit.
Peraturan ketujuh: Cari pacar kaya.

Cari pacar yang begini, cari pacar yang begitu. Yang baik bobot bibit bebetnya (kayak bibit gue bener aja!). Kalau dapat yang seiman diliat tampang dan keramahan. Kalau dapat pacar yang ga seiman? dapat tamparan? Lebih buruk mana, seiman tapi tidak menjaga kesucian atau tidak seiman tapi menjaga kekudusan? HELL yeah! Manusia *terutama orang tua* tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya, dengan apa yang dialaminya (terutama yang ada pada anaknya). Bagaimana kalau saya cukup pada tingkat kepuasan optimal saya sekarang? Bukan yang paling sempurna, bukan pelengkap semua peraturan. Bagaimana? Apakah akan saya dapatkan kediaman dan peng'ignore'an?

Terlalu capek untuk mikir, terlalu malas untuk dipikirkan.
maaf yah kalau saya bertanya seperti ini, emang cinta perlu mikir? it just happened dude. SORRY!

Ada kejadian begini, bukan tak disengaja tapi memang direncakan. Oknum-oknum dibawah ini adalah teman-teman saya yang saya sayangi dan juga diri saya sendiri sebenarnya terlibat dalam suatu photosession, bukan kacangan, bukan juga profesional. Hanya saja kami menyalurkan hobi fotografi dan hobi difoto lebih tepatnya narsisme dan bakat model. Oknum-oknum tersebut adalah sebagai berikut.

Oknum1: Reca Johani - Imut-imut pendek dari Manado


Oknum 2: Permata Karina Sembiring - Batak manis nan modis


Oknum3: Katarina Sienna - Tinggi, langsing, pintar, rajin!


Oknum 4: Shelmi Setiawan - Si sipit pintar yang cinta David Villa


Oknum 5: Gracia Samantha Hendrata - Ya ini saya sodarah-sodarah :D


Dibawah ini ada beberapa contoh foto yang diambil. Beberapa sudah di edit. Ya kami memang tidak jelek, cakep malah *PD jaya! :D






Banyak terima kasih buat oknum yang sudah memfoto kita dari tengah-tengah sesi sampai terakhir. Terima kasih atas hasilnya yang bagus-bagus.

Ini dia oknumnya dengan kacamata hasil pinjam sana sini. Thanks bro! :D

Sekian post iseng-iseng ini. Terima kasih sodarah-sodarah!

Beberapa hari yang lalu sekitar sabtu malam, untuk pertama kalinya saya menonton film indie yang belakangan ini dibicarakan oleh teman-teman saya, Cin(T)a. Ditemani pacar saya, kami menontonnya di laptop hitam bertuliskan "Raven" itu. Walau teman saya bilang "Basi lo baru nonton sekarang!" tapi tak apa, karena film ini membuat saya berpikir banyak soal perbedaan, perbedaan agama dalam percintaan lebih tepatnya. Hal ini tidak terlalu mengganggu pikiran saya sebenarnya, tapi sekarang lain cerita karena saya sedang mengalaminya. Great, hal yang sangat rumit untuk dijalanani tapi sangat berarti untuk dipelajari.


Inti dari film itu adalah demikian:
Cina and Annisa love God
and God loves them both
But Cina and Annisa cannot love each other
because they call God by different names
cin(T)a = Cina (Tuhan) Annisa

Mengerti kan sekarang bahwa cerita cinta itu selalu menarik untuk dikisahkan apalagi yang berhubungan dengan dua pribadi dengan segala latar belakang yang saling bertolak layaknya kutub utara dan selatan. Menarik memang, tapi rumit. Anggap saja begini, saya tidak pernah berpikir untuk berpacaran dengan orang yang berbeda agama, karena menurut saya itu merepotkan. Pernah suatu kali adik saya berpacaran dengan yang berbeda agama juga dan saya sempat mengatakan demikian, "Gila lo??". Okeh saya bukan fanatik hanya saja tak mau direpotkan dengan jalan dan pandangan yang berbeda soal Tuhan dalam percintaan. Sekarang faktanya, seperti senjata makan Tuhan, saya yang malah berpacaran berbeda kenyakinan dengan saya. Sekarang seharusnya kata-kata itu dikembalikan kepada saya, "Gila lo??"

Mungkin saya sedikit gila memang. Dari dulu yang ditekankan dalam diri saya adalah, "Cari pacar yang takut akan Tuhan." sama seperti yang dikatakan oleh Cina, tokoh utama pria dalam film ini, "Kalo istriku, harus lebih cinta Tuhan aku daripada aku." Acungan jempol untuk dialog yang satu ini. Toh dia juga sayang Tuhan, cinta Tuhan. Hanya saja caranya berbeda, lalu apa masalahnya? Saya tidak pernah tahu bagaimana saya akan menghadapi dunia ini terutama keluarga saya apabila mereka tahu saya pacaran beda keyakinan. Yang saya tahu saya telah jatuh cinta pada pria yang menjadi pacar saya sekarang, apapun sejarah dan latar belakangnya saya terima dengan lapang. Berani memilih harus juga berani mengambil resikonya. Kemarin saya baru mengatakan ini kepada teman saya, "You have to be brave to take for granted of all your love's way." Ya ini seharusnya juga ditujukan untuk saya. Mencintainya diperlukan banyak keberanian, dia bukan aneh, tapi sedikit berbeda.

Jangan kira saya tidak memikirkan ini baik-baik sebelum berpacaran. Justru ini penyebab saya menunda-nunda penawaran jual beli. Akhirnya dibayar dengan segenggam hati yang tulus dan sepucuk mawar merah, saya bersedia mengambil resiko yang tidak tahu akan seperti apa nantinya. Satu hal yang aneh, setelah menonton film ini saya jadi bertanya, "Tuhan? dimana Engkau?". Oke, ini pertanyaan yang sunggu salah. Ada keraguan tentang Tuhan dalam diri saya dan itu buruk! Tidak seharusnya timbul hal seperti ini. Akhirnya ditemani dengan iringan instrumental dari iTunes laptop hitam itu, kami sama-sama duduk terdiam dan saling membelakangi satu sama lain. Punggung kami beradu, pikiran kami merewarang jauh. Serumit itu kah cinta beda agama ini?

Saya berpikir demikian akhirnya, bahwa saya bersyukur diberi kesempatan mengalami ini, bertemu dengannya, dan mengenal perbedaan. Dulu saya orang yang tidak mau repot dengan hal-hal demikian tapi sekarang saya terlanjur tenggelam di dalamnya. Tidak apa, saya senang, saya bersyukur. Coba mereka yang belum pernah mengalami ini, memang kisah mereka tidak akan sesulit ini, namun mereka tidak mendapat pelajaran mengenai bab Perbedaan. Kalau saya, saya diberi kesempatan untuk belajar dan saya berterima kasih akan itu. Entah ada masalah apa yang akan menanti kami diujung sana, setidaknya kami berdua mencoba berjalan dengan kenyakinan kami masing-masing namun satu pikiran, bahwa Tuhan sebenarnya satu. That's all! Seperti kutipan dialog ini, "Kalo lo gak bisa nyelesein konflik agama di sana, the least you can do, jangan coba bikin konflik baru di sini deh–Anisa".

Doa saya malam itu: mohon ampun kepada Tuhan akan keraguan sesaat, semoga keraguan itu tidak pernah datang lagi dalam pikiran sesat ini. Jangan sampai. Juga untuk kami berdua, kalau memang ini yang Tuhan mau, kami akan menjalaninya dengan kemampuan terbaik kami. Menjadikannya pelajaran untuk kedepannya. Sepintas juga teringat akan dialog singkat wawancara pasangan beda agama di awal cerita dari film itu yang saya bahasakan seperti ini, "Tuhan, Tatha sayang sama Aji. Kita boleh pacaran yah Tuhan??". dan Tuhan terdiam, tapi jawabanNya ada. Saya tahu itu, hanya saja belum mendapatkannya. Setidaknya saya sudah minta ijin. Toh dia juga anakNya. Kami sama-sama anakNya!

Suasana melankolis sesaat itu dipecahkan dengan dialog kami berdua:
Saya: "Untung aku ga fanatik yah."
Dia: "Ya kita liberal."
Saya: "Ya kalau fanatik kita ga jadian."
Dia: Hugged me.

Ketika masing-masing pribadi saling merendah dan menahan egonya, lihat apa yang bisa didapat dari perbedaan. Keindahan yang didapat, bukan perpecahan. Toh saya sudah sedikit banyak mendapat pencerahan dari film ini.

"Kenapa Tuhan nyiptain kita beda-beda kalo Tuhan cuma mau disembah kita dengan satu cara? –Anisa. Makanya Tuhan nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu –Cina."

C.I.N.T.A itu jawabannya. Bersatu bisa berarti banyak hal, tidak harus selalu bersama seperti ending di film ini. Tapi ada juga yang benar-benar bersatu seperti kisah lainnya. Akankah kisah saya ini menjadi bersatu seperti kisah lainnya itu atau berakhir seperti Cina dan Annisa? Who knows? God knows.

"Tabah Cin, inget Hollywood ending. Tuhan pasti lagi nonton kita –Anisa"

God is a Director - of my movie, of your movie, of our movie.
Sekarang saya bersamanya dan biarkan seperti itu. Tidak peduli dia agama apa, dia bagaimana dahulu, dia sama siapa dahulu, yang saya tahu, dia bersama saya sekarang, membuat film baru untuk kami berdua. Sampai kata ending itu muncul, biarlah kami bersama selama yang kami bisa.

Dia bahagia, aku bahagia. Sesederhana itu. (Winter in Tokyo)
I just love him. Simple. That's all.

PS: what a great film! thank you...

Ini soal Vans. Sebelum saya bernepsong-nepsong ria dengan sepatu ini mari kita lihat sebelumnya mengenai sejarah singkat sepatu ini yang berhasil saya copas dari salah satu thread di kaskus.


Pada tanggal 16 Maret 1966, Paul Van Doren bersama tiga orang temannya, yaitu
Jim Van Doren, Gordy Lee, dan Serge D’Elia membentuk Van Doren Rubber Co.,
kemudian sekarang kita kenal sebagai Vans. Vans merupakan produsen sepatu,
pakaian, dan aksesoris untuk olahraga seperti skateboard, snowboard, BMX, dan
selancar.

Pada tahun yang sama, Vans meluncurkan Vans #44, populer dengan nama Vans
Authentic, sebagai penjualan pertama. Pada hari itu pula, Vans #44 habis
terjual. Tahun 1975, dua orang skater ternama pada masa itu, Tony Alva dan Stacy
Peralta, mendesain Vans #95, yang kita kenal sebagai Vans Era. Pada masa
tersebut, Vans mencapai puncak kejayaannya karena Vans menjadi pilihan utama
bagi para pemain BMX dan skater. Terlebih lagi saat Sean Penn menggunakan Vans
Slip-On dalam filmnya yang berjudul “Fast Times at Ridgemont High” pada tahun
1982. Hingga sekarang, Vans sudah meluncurkan lebih dari 60 model, termasuk Era,
Authentic, Zapato, dan Sk8-Hi.

Di Jakarta sendiri, Vans tidak hanya dipakai oleh para skater, namun juga
personil-personil band, dan sneakers freak, yaitu orang yang hobi mengoleksi
sepatu. Di Jakarta, Vans juga termasuk barang langka, karena Vans tidak memiliki
toko resmi di Indonesia. Ada beberapa toko yang menjual produk Vans, baik sepatu
maupun pakaian dan aksesoris, tentunya dengan harga yang sedikit lebih mahal
karena mereka harus pesan dari luar negeri. Toko-toko yang menjual produk Vans
antara lain Koopa, My Shoes, Skematic, dan Insect.

Dari dulu hingga sekarang, Vans tidak pernah ketinggalan tren. Dari soal desain,
misalnya Authentic, klasik namun tetap matching bila dipadukan dengan tren yang
sedang booming sekarang. Meskipun modelnya selalu klasik, namun itulah yang
menyebabkan Vans menjadi barang yang selalu dicari.

Vans Authentic tu vans pertama yg di luncurin sama Van Dorren co. di tahun 70an.
Vans ini sangat di gemari sama skaters2 di amerika. sehingga di produksi lagi
oleh Vans yg bernama Vans Era. dan tentunya agar lebih menarik para pembeli. Vans Era di disain oleh Tracy sama Tony. Vans Era sebenernya modelnya sama saja seperti Vans Authentic tapi perbedaanya bagian bawah Vans Era lebih tebal agar lebih napak ke papan skate dan lebih empuk dan cendrung lebih tebal bahanya. Makanya sepatu era lebih nyaman utk para skaters. semenjak itu Tracy dan Tony menjadi trade mark Vans di Amerika.

Okeh, terima kasih kaskuser yang menulisnya karena saya malas menterjemahkannya melalui wikipedia (nyehehehe). Tidak peduli sejarahnya bagaimana yang penting sekarang sepatu ini menjadi salah satu sepatu favorit saya selain sendal jepit (what a great kind of thing to fave about!)

Dibawah ini saya pajang beberapa contoh gambar dari sepatu Vans yang berhasil membuat saya mupeng walau saya tahu sedang tak ada uang untuk membelinya, paling tidak saya pajang untuk dikenang dan mengimi-ngimingi (so hard) saya agar giat bekerja untuk membelinya.









Yah sekian post yang mengumbar sedikit kesenangan saya ini. Berharap pembaca yang baik hati ada yang mau memberikannya pada saya (amin! ya Tuhan amin!).

Thank you for Paul Van Doren and friends for made such many great shoes for world!!